PILIHAN BAHASA
BERANDA  |   RILIS BERITA

Gambar Perkembangan Organ Reproduksi dalam Buku Penjaringan Kesehatan sebagai Bahan Edukasi


Jakarta, 9 September 2013

Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, menyayangkan bahwa pemberitaan hanya berfokus pada pembahasan mengenai kesehatan reproduksi yang hanya terdiri dari sebanyak dua halaman. Padahal, sebenarnya Buku Penjaringan Kesehatan tersebut membahas banyak indikator persamalahan kesehatan. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di dalam buku tersebut, mencakup status kesehatan umum, riwayat kesehatan pribadi, informasi kesehatan keluarga, riwayat imunisasi, gaya hidup, kesehatan inteligensia, dan kesehatan reproduksi.

Ini sifatnya scientific, bukan pornografi, ujar dr. Jane, saat memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Sabtu siang (7/9).

Menurutnya, gambar tersebut merupakan hasil sebuah penelitian dan bersifat ilmiah. Skala Tanner yang digunakan merupakan gambar sebagai indikator untuk menilai tumbuh kembang kelenjar payudara maupun kematangan organ reproduksi sekunder dari pria. Dengan kata lain, pertanyaan-pertanyaan dalam buku tersebut menjadi indikator untuk mengetahui status pubertas remaja.

Prosedurnya adalah peserta didik diminta untuk menentukan sendiri dengan cara melihat gambar, bukan diukur oleh orang lain. Utamanya, bersifat rahasia. Hanya diketahui yang bersangkutan dengan petugas kesehatan, kata dr. Jane.

Beberapa waktu belakangan ini, media ramai membicarakan Buku Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan yang disebut-sebut sebagai Kuesioner Alat Ukur Kelamin sehingga dinilai vulgar dan menjadi kontroversi di Sabang, Aceh. Sebutan kuesioner ukur kelamin sebenarnya tidak tepat, karena isian yang dimaksud bukan berupa lembaran kertas yang menanyakan ukuran atau bentuk kelamin saja, melainkan berupa buku yang berisi pertanyaan-pertanyaan seputar kesehatan remaja secara umum.

Penjaringan kesehatan dilakukan untuk mendeteksi dini masalah kesehatan yang ditemukan pada peserta didik, untuk segera dapat dilakukan tindak lanjut. Berbeda dengan sebuah penelitian, bahwa output yang dihasilkan adalah berupa data, tidak berfokus pada upaya tindak lanjut terhadap masalah kesehatannya.

Ini bukan penelitian, apalagi survei. Ini sifatnya pelayanan yang diperuntukkan bagi seluruh anak sekolah lanjutan di seluruh Indonesia, tidak pilih-pilih, ujar dr. Jane.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui hotline 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat e-mail kontak@depkes.go.id.

BERITA SEBELUMNYA
-- KEMBALI KE ATAS --
APLIKASI PUBLIK
APLIKASI INTERNAL
  • < KEMBALI
  • |
  • LANJUT >
KONTAK KAMI
  • HALO KEMKES :(Kode Lokal) 500567
  • FAX021-52921669
  • E-MAILkontak@kemkes.go.id