MENDENGARKAN DAN BERKOMUNIKASI DALAM KELUARGA ADALAH KOMPONEN PENCEGAH DEPRESI YANG UTAMA

DIPUBLIKASIKAN PADA : SELASA, 16 OKTOBER 2012 04:44:03, DIBACA : 55.019 KALI

Jakarta, 14 Oktober 2012

Kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik dalam keluarga dan komunitas, merupakan komponen pencegahan depresi yang utama.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, dalam sambutannya saat membuka Acara Puncak Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) Tahun 2012 di Lapangan Monas Jakarta, Minggu 14 Oktober 2012.



Ditambahkan Menkes bahwa perhatian dan kasih sayang dari lingkungan sekitar akan membuat penderita tidak merasa sendirian dan diharapkan akan patuh pada rencana pengobatan yang diberikan.

Menurut WHO dan World Federation of Mental Health, hasil survei yang dilakukan oleh dokter keluarga menunjukkan bahwa penderita depresi yang menunda berobat lebih dari 11 bulan akan mengalami keterlambatan dalam pemulihan gangguan depresinya. Padahal, depresi dan gangguan mental emosional lainnya dapat dicegah melalui program promotif, preventif, kuratif serta rehabilitatif, sehingga tercapai kondisi jiwa sehat yang ditandai dengan perasaan sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.

Depresi ditandai oleh gejala utama rasa sedih dan hilangnya minat yang berkepanjangan selama 2 minggu dan menetap selama 2 bulan. Gejala ini dapat menyerang siapa saja, tidak memandang usia, latar belakang etnis, status sosial ekonomi atau jenis kelamin. Penyalahgunaan zat, gangguan kecemasan dan keluhan fisik yang umumnya bersifat kronis, seperti penyakit jantung, stroke, HIV/AIDS dan diabetes merupakan faktor risiko terjadinya depresi. Sedangkan faktor penyumbang yang signifikan adalah faktor biopsikososial, seperti kemiskinan, penyakit kronis, perceraian, perpisahan atau kehilangan orang yang dicintai, kesepian, dan faktor keturunan.

Statistik WHO tahun 2002 menunjukkan bahwa 154 juta orang secara global menderita depresi. Saat ini terdapat 121 juta orang mengalami depresi dan dinyatakan bahwa 5,8% pria dan 9,5% wanita di dunia pernah mengalami episode depresi dalam hidup mereka. Menurut WHO, depresi menduduki peringkat ketiga beban penyakit dalam skala global tahun 2004 dan diperkirakan cenderung naik menjadi peringkat pertama pada tahun 2030.

Data WHO tahun 2005 mengungkapkan bahwa sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri setiap tahunnya, karena tidak ada data nasional untuk angka bunuh diri di Indonesia, dari data tersebut diperkirakan ada 150 orang melakukan bunuh diri setiap harinya di Indonesia.

Menkes mengingatkan kepada seluruh masyarakat agar masalah kesehatan jiwa diperhatikan sejak masa kehamilan sampai usia lanjut, sehingga masing-masing individu dapat hidup mandiri, produktif, dan berkualitas. Masalah kesehatan jiwa pada remaja dewasa ini menjadi fokus perhatian di berbagai daerah, khususnya di kota besar/metropolitan seperti DKI Jakarta.

Peran utama Puskesmas sebagai ujung tombak pusat pelayanan primer dan RS Jiwa sebagai pusat rujukan tersier gangguan jiwa sangat diharapkan dapat meningkatkan peran dan mutunya. Kesadaran para profesional terkait pemberdayaan dokter umum dan kader kesehatan agar secara bersama-sama meningkatkan jumlah dan kemampuannya dalam mendeteksi masalah kesehatan jiwa sedini mungkin.

Investasi terhadap promosi kesehatan jiwa dan preventif masalah kesehatan jiwa menjadi tanggung jawab bersama lintas program dan sektor terkait karena tidak mungkin hanya ditangani oleh tenaga kesehatan saja.

Menkes berharap agar upaya pengendalian dan pencegahan masalah kesehatan jiwa tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh seluruh komponen masyarakat.

HKJS diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 10 Oktober dan bertujuan menghormati hak-hak mereka yang menderita gangguan jiwa. Peringatan ini juga dilakukan untuk memperluas program pencegahan untuk mengurangi gangguan kesehatan jiwa di antara penduduk rentan, memperluas pelayanan yang memadai bagi mereka yang membutuhkannya, dan meningkatkan upaya perbaikan kesehatan jiwa secara optimal bagi penduduk dunia.

Peringatan HKJS tahun 2012 dilaksanakan di tingkat pusat dan daerah. Kegiatan diarahkan pada upaya peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya promosi dan pencegahan terjadinya depresi serta masalah kesehatan jiwa. Tema peringatan yang dicanangkan oleh the World Federation of Mental Health tahun ini adalah Depression: A Global Crisis atau Depresi Menjadi Krisis Global dengan subtema Waspada Terhadap Depresi Terselubung dan Penyakit Penyertanya. Tema ini diangkat untuk mengingatkan masyarakat dunia bahwa depresi merupakan penyebab utama hilangnya hari-hari produktif dan jumlah tahun produktivitas kerja yang dapat mengakibatkan naiknya beban ekonomi.

Pada kesempatan ini juga Menkes meluncurkan sarana mobile councelling kesehatan jiwa remaja. Sarana ini disediakan sebagai upaya awal untuk mencegah munculnya masalah kesehatan jiwa pada remaja dan sarana ini diharapkan meningkatkan kepedulian remaja untuk menjaga kesehatan jiwa dirinya dan teman sebayanya. Sedangkan layanan masalah kesehatan jiwa diupayakan pula dilaksanakan di RS Umum dan hotline service 500-454 di 26 RS Jiwa di Indonesia.

Acara puncak peringatan HKJS tahun 2012 dimeriahkan kegiatan berupa fun bike sehat jiwa raga, senam kesegaran jasmani, pelepasan balon, pemberian penghargaan kepada wartawan yang peduli kesehatan jiwa dan juga disediakan pojok konseling kesehatan jiwa.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021) 52907416-9, faksimili: (021) 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dan 081281562620 (sms), atau e-mail kontak[at]depkes[dot]go[dot]id