INDONESIA JADI CENTER OF EXCELENT: MOMENTUM BARU BAGI NEGARA-NEGARA ISLAM DALAM PENGEMBANGAN VAKSIN DAN PRODUK BIOTEKNOLOGI

DIPUBLIKASIKAN PADA : SENIN, 14 MEI 2018 00:00:00, DIBACA : 12.682 KALIJakarta, 14 Mei 2018

Senin pagi (14/5) menjadi momentum awal bagi Indonesia memulai kegiatan sebagai The Organization of Islamic Cooperation (OIC) Centre of Excellence (CoE) on Vaccines and Biotechnology Products dengan menyelenggarakan workshop sekaligus kegiatan peluncuran di Jakarta.

Kegiatan yang dibuka oleh Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) dan para pejabat eselon I Kementerian Kesehatan, juga dihadiri oleh Duta Besar dan perwakilan Negara-negara anggota OIC, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Direktur Utama PT. Bio Farma, PT. Kimia Farma, PT. Phapros, dan PT. Indofarma.

Ini untuk menindaklanjuti resolusi pertemuan Islamic Conference of Health Ministers (ICHM) ke-6 di Jeddah pada 6-7 Desember 2017 lalu, yang telah menunjuk Indonesia sebagai Centre of Excellence (CoE) produksi vaksin dan produk bioteknologi, tutur Menkes mengawali sambutannya.

Keberadaan The OIC CoE dimaksudkan untuk mendukung penelitian dan pengembangan vaksin dan sediaan biologis yang lebih efisien dalam mengantisipasi wabah penyakit yang tidak dapat diprediksi.

Dalam pelaksanaannya, CoE akan menjadi sentra aktifitas pengembangan vaksin dan produk bioteknologi, serta menjadi forum kolaborasi para peneliti dalam melakukan inovasi dan berbagi pengetahuan terkait proses produksi di bidang vaksin dan produk bioteknologi.

''CoE diharapkan dapat menghasilkan penelitian dan pengembangan yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh anggota di masa mendatang,'' imbuh Menkes.

Dengan peluncuran hari ini, maka akan terjadi percepatan dari seluruh rangkaian aktivitas sebagaimana yang direncanakan.

Semoga center of excelent ini dapat mencapai tujuannya untuk mewujudkan kemandirian vaksin dan produk bioteknologi di negara-negara anggota OIC dan bisa berkontribusi terhadap kesehatan dunia, tandas Menkes.


 Semangat Kebersamaan Upayakan Kemandirian


Salah satu yang melatarbelakangi terbentuknya CoE adalah kondisi masyarakat global yang terus menghadapi ancaman penyakit, baik berupa penyakit infeksi baru ataupun infeksi lama berulang yang akan menyebabkan risiko pandemi global. Namun sayangnya, laju pengembangan penelitian dan teknologi kesehatan lebih lambat dan tidak dapat mengikuti cepatnya perkembangan penyakit yang ada.

Dampak dari kondisi tersebut terutama dirasakan pada Low Middle Income Country (LMIC) yang saat ini masih mengalami permasalahan kesehatan, akan lebih rentan terhadap wabah penyakit yang mungkin terjadi karena kapasitas respon yang tidak memadai, selain dikarenakan kepadatan dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, serta iklim tropis menyebabkan penyebaran penyakit menular tidak dapat dihindari.

Pemberian vaksin, seperti kita ketahui merupakan salah satu upaya dalam melindungi manusia terhadap berbagai penyakit. Sayangnya, hingga saat ini belum semua negara OIC memiliki kemampuan untuk menyediakan vaksin maupun obat lain yang dibutuhkan untuk profilaksis maupun pengobatan terutama dalam mengatasi wabah penyakit menular.

Negara-negara anggota OIC, sebagai kelompok negara besar dengan banyak kesamaan baik demografi, sosial maupun ekonomi perlu bekerja bersama dan berkontribusi dalam mewujudkan kesehatan di dunia.

Untuk itu, guna menghadapi tantangan tersebut, negara-negara anggota OIC perlu mengupayakan kemandirian pasokan dan produksi vaksin.

 

Workshop Lanjutan


Usai kegiatan peluncuran The CoE of OIC selanjutnya diikuti dengan halfday workshop  yang diisi dengan materi-materi, mengenai ''Promoting Public-Private Partnership in Responding Global Health Threats through the Establisment of the OIC CoE on Vaccines and Biotechnology Products'', yang akan disampaikan oleh beberapa narasumber sebagai berikut:

1) Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI yang akan menyampaikan paparan mengenai ''Indonesias Role in Achieving Self-Reliance of Vaccines Production And Availability in the OIC Member Countries Region'';

2) Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia yang akan menyampaikan mengenai ''Role of NADFC to Ensuring the Quality of Vaccines and Biotechnology Products'';

3)  Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti RI, yang akan memaparkan tentang ''Collaborative  Research  Model on Developing New Vaccines''; serta

4)  Direktur Utama PT. Bio Farma yang akan menyampaikan materi tentang ''Strategic Plan of Actions of the OIC Center of Excellence on Vaccines and Biotechnology Products'';

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id. (myg)