PASAR SEHAT UPAYA CEGAH PENULARAN PENYAKIT

DIPUBLIKASIKAN PADA : SENIN, 26 SEPTEMBER 2011 03:11:50, DIBACA : 56.336 KALI

Pasar tradisional di Indonesia kerap tidak nyaman dikunjungi karena identik dengan tempat kotor, berbau tidak sedap, becek, pengap. Selain itu juga menjadi tempat perkembangbiakan binatang penular penyakit, seperti kecoa, lalat dan tikus. Informasi dari berbagai otoritas kesehatan mencatat ada lebih dari 250 jenis penyakit ditularkan melalui makanan yang tidak aman. Pasar yang tidak sehat tentu berdampak pada dijajakannya makanan yang tidak aman. Data tahun 2005 menunjukkan, 60% masyarakat Indonesia memperoleh bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari lainnya dari pasar tradisional.


Demikian sambutan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH saat membuka Lokakarya Nasional Pengembangan Inisiatif Lintas Sektor untuk Revitalisasi Pasar Tradisional Menjadi Pasar Sehat Sebagai Upaya Meningkatkan Ekonomi Daerah dan Pencegahan Penularan Penyakit Flu Burung serta Pencegahan Penularan Penyakit Potensial KLB/Wabah, di Jakarta (26/9).

Ada sekitar 13.650 pasar tradisional di seluruh Indonesia dan semuanya berada di bawah pengelolaan atau pengawasan Pemerintah Daerah di Kabupaten/ Kota masing-masing. Sebagai tempat umum, kebersihan, keindahan, keamanan dan kenyamanan pasar tradisonal harus mendapat perhatian khusus dan tidak boleh dilupakan, kata Menkes dihadapan peserta lokakarya yang terdiri dari Para Bupati/ Walikota dari berbagai daerah di Indonesia, WHO Representative to Indonesia and European Union Representative to Indonesia, Pengurus Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan (HAKLI) tingkat Pusat dan Daerah, wakil dari berbagai Kementerian, Organisasi Profesi dan dari Lembaga Pemerhati Kesehatan Lingkungan, wakil dari Poltekes se-Indonesia, dan Yayasan Danamon Peduli.

Untuk membantu para Bupati dan Walikota melaksanakan Kepmenkes ini, telah dikembangkan Pasar Sehat Percontohan di 10 Kabupaten/Kota di 9 provinsi. Kegiatan Pasar Sehat Percontohan ini berlangsung pada 2007 - 2011 dan dilaksanakan atas kerjasama Kementerian Kesehatan dengan Uni Eropa dan WHO, jelas Menkes.

Setiap pasar percontohan, mendapat bantuan untuk peningkatan kapasitas para pembina, para pedagang, dan komunitas pasar lainnya, agar terjadi perubahan perilaku bagi terwujudnya pasar yang bersih, aman, nyaman dan sehat, ujar Menkes.

Menkes menyatakan, sejak tahun 2005, dari berbagai negara Asia dilaporkan adanya kasus flu burung pada manusia yang sangat patogen (highly pathogenic). Penyakit ini berpotesi menimpulkan KLB atau wabah dengan angka kematian yang tinggi.

Inang alami virus flu burung adalah berbagai jenis unggas, seperti ayam, bebek, angsa, kalkun, burung puyuh, merpati dan sejumlah burung liar. Sebagian dari jenis-jenis unggas tersebut diperjualbelikan di pasar tradisional di Indonesia, ungkap Menkes.

Mengutip UUD 1945, Menkes mengingatkan bahwa kesehatan adalah hak semua warga Indonesia. Amanat ini dijabarkan dalam berbagai peraturan perundangan yang mengamanatkan bahwa pembangunan kesehatan harus dilaksanakan secara adil dan merata dengan prioritas pro poor, pro job, pro environment dan pro health. Hal ini mengisyaratkan, meningkatkan kesehatan pasar untuk meningkatkan kesehatan masyarakat juga merupakan kegiatan prioritas.

Menkes menyatakan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai aturan terkait pasar sehat, diantaranya Peraturan Presiden Nomor 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern; serta Keputusan Menteri Kesehatan No. 519/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.

Dalam Kepmenkes No. 519/2008 tercantum tujuan penyelenggaraan Pasar Sehat adalah untuk mewujudkan pasar yang bersih, aman, nyaman, dan sehat melalui kemandirian komunitas pasar. Komunitas pasar diharapkan dapat mewujudkan dan memelihara kesinambungan pasar sehat.

Dalam Kepmenkes ini juga dinyatakan 6 aspek kriteria pasar yang dianggap sehat, yaitu Kelaikan Lokasi Pasar; Sanitasi Ruang dan Bangunan; Perilaku Hidup Bersih dan Sehat; Keamanan; Kenyamanan; dan Tersedianya fasilitas lain-lain. Sementara ada 3 kategori status pasar, yaitu Sehat, Kurang Sehat dan Tidak Sehat.

Menkes menegaskan, kedudukan pasar sangat penting dalam peningkatan ekonomi kerakyatan. Oleh karenanya, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koperasi dan UKM, dan Kementerian Pertanian telah mengembangkan kebijakan untuk peningkatan kualitas pasar. Kebijakan ini diharapkan berdampak pada peningkatan ekonomi daerah. Dari kalangan swasta, Yayasan Danamon Peduli juga telah berkontribusi pada perbaikan pasar dengan menggunakan dana Corporate Social Responsibility atau CSR.

Dengan berakhirnya bantuan Uni Eropa untuk Pasar Sehat Percontohan, Menkes berharap Lokakarya Nasional ini dapat Menjadi salah satu langkah untuk exit strategy. Hendaknya Pasar Sehat Percontohan ini dilanjutkan dan dilestarikan dengan dana Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah juga perlu mengembangkan dan mereplikasi pasar sehat di lokasi lain bekerjasama dengan berbagai pihak terkait.

Melalui lokakarya ini diharapkan adanya peningkatan kemitraan antara Pemerintah Daerah dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai kementerian/ lembaga lainnya, BUMN, serta Perusahaan Swasta untuk sinkronisasi pengembangan dan pelembagaan pasar sehat, serta menjadi forum komunikasi untuk bertukar informasi dalam mewujudkan pasar tradisional yang aman, nyaman dan sehat.

Pada kesempatan tersebut Menkes menyampaikan apresiasi kepada para Bupati/Walikota yang telah mendukung terlaksananya Pasar Sehat Percontohan di daerah masing-masing.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faksimili: 021-52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): 021-500567, atau e-mail kontak[at]depkes[dot]go[dot]id.